Kekeliruan Jurnalisme untuk Berarsitektur

Kekeliruan seseorang dapat dimanfaatkan untuk keuntungan pribadi. Bila anda pejabat penting sebuah negara dan anda keliru menyimpan rekaman bugil-bareng-simpanan di tempat yang tidak tepat, maka hampir pasti pedagang informasi akan mendapat rejeki dari kekeliruan anda. Istilah ‘berita yang baik adalah berita buruk’ menjadi kalimat implisit yang jelas disini. Dan coba cari saja sarana informasi mana yang mampu bertahan hanya dengan menampilkan berita baik yang baik. Bahkan tabloid religius pun masih harus mendramatisir kematian seseorang. Ini saya namai Kekeliruan Jurnalisme, beberapa pihak lebih sreg Kesalahan Jurnalistik, namun dua-duanya tidak terlalu perlu diperdebatkan.

Sekarang mari kita melompat ke ranah arsitektur. Mungkinkah Kekeliruan Jurnalisme (KeJu) bisa diterapkan ke dalamnya? Begini gambarannya:

  1. Anda/pihak lain melakukan KeJu, lalu itu dimanfaatkan untuk berarsitektur.
  2. Ketika Anda memanfaatkan KeJu itu, ternyata terjadi lagi KeJu alternatif.
  3. Pihak lain yang melihat fenomena ini, memanfaatkan KeJu itu untuk kepentingan pribadinya.
  4. Dan seterusnya, dan seterusnya…

Dan ternyata, setelah pembacaan terhadap pasang surut arsitektur mancanegara, memang sebuah arsitektur -baik itu rancangan, pemikiran/teori, kejadian seputar arsitektur- memang berkutat pada Kekeliruan Jurnalisme, atau lebih tepatnya bisa saya suaikan menjadi Kekeliruan Arsitektural. Lihat saja ketika Eisenman merancang House VI yang kontroversial itu, yang bahkan oleh penghuninya/klien pada akhirnya sampai memutuskan untuk pindah akibat kedalaman teori si arsitek dan menulis kritik terhadap karya rancang. Di sudut lain, ternyata justru preseden House VI ini menjadi potensi studi yang menarik, mengingat rancangan lebih sukses secara teoritikal ketimbang terbangun.

Ketika seorang arsitek merancang, dia pasti akan mencari obyek terbangun lain yang mirip sebagai pembanding. Dalam pencariannya, dia akan menemukan bahwa ada kasus yang cocok dan bisa diterapkan, dan ada yang sebaliknya. Ada kasus yang merupakan contoh buruk, ada kasus yang bisa dijadikan teladan. Ini berarti dia memanfaatkan Kekeliruan Arsitektural sebagai koridor rancangnya, setidaknya secara manfaat. Walaupun bisa juga terjadi fakta yang lebih konyol:

  1. Dia menemukan contoh preseden yang menurut dia menarik, bahkan tanpa dibaca dulu dengan komprehensif apa konteksnya. Lalu secara sembrono dia tempelkan begitu saja pada rancangannya; akibatnya, hasil yang keluar adalah semacam Topeng Monyet.
  2. Ada orang awam, umumnya kebingungan uangnya yang melimpah mau diapakan, secara tak sengaja melihat preseden arsitektur yang menarik perhatiannya. Segera dia panggil arsitek dan disuruhnya untuk menggambarkan (bukan merancangkan) apa yang si empunya gawe mau. Jelas hasil salin-jiplak masih membawa genetik karya aslinya (tapi cuma Topeng Monyet) dan otomatis ada unsur kebagusannya. Maka ketika ada orang-kaya-nganggur lain tertarik dengan Topeng Monyet ini, dia segera menyuruh arsitek untuk menggambarkan keinginannya, dst. Ini adalah Kekeliruan Arsitektural ala MLM.

Alhasil, kita hidup dalam sebuah lingkaran yang bertopeng, kosong dari esensi. Kita bernafas oksigen bercampur polusi dan bau cor-coran beton yang tersia-sia. Mata kita dihasut fatamorgana pernak-pernik yang dianggap sebagai lingkung bina arsitektural. Kenyataannya: Kekeliruan Arsitektural adalah sistem yang menjerat hingga jauh ke dalam urat nadi. Kita merancang Topeng Monyet. Kita berteori tentang Kekeliruan. Kita manusia memang selalu keliru.

“Kita berencana dan Tuhan menertawakannya.” Pepatah Yahudi Jerman.

Iklan

5 Responses to Kekeliruan Jurnalisme untuk Berarsitektur

  1. jiem berkata:

    sebuah renungan yang patut direnungkan… ^:)^^:)^^:)^

  2. AM Putra berkata:

    Ya, tapi jangan lama-lama yang bertapanya…

  3. infoGue berkata:

    artikel anda bagus dan menarik, artikel anda:
    http://www.infogue.com/
    http://rumah-taman.infogue.com/kekeliruan_jurnalisme_untuk_berarsitektur

    anda bisa promosikan artikel anda di infoGue.com yang akan berguna untuk semua pembaca. Telah tersedia plugin/ widget vote & kirim berita yang ter-integrasi dengan sekali instalasi mudah bagi pengguna. Salam!

  4. sulurliar berkata:

    lalu bagaimana setelah tau itu keliru?
    mewartakan pada semua khalayak bahwa arsitektur yang seperti ini, seperti itu adalah keliru?
    memberi contoh karya aristektur yang tidak keliru?

    apakah ini sangat mendesak untuk membelokkan kemelencengan itu atau dibiarkan saja hingga berlarut-larut ?

    saya pribadi prihatin dengan maraknya arsitektur topeng monyet. ia sudah mulai menyesaki lorong-lorong sempit permukiman (dalam skala mini).

  5. AM Putra berkata:

    Setelah keliru harapan saya setidaknya khalayak bersedia mewartakan mana yang benar. Sayangnya, dalam arsitektur mendudukkan keliru-benar sendiri juga merupakan permasalahan mengingat tolakukur yang beragam.

    Jalan tengahnya, benar-keliru sebuah arsitektur itu dilihat dari konsistensi pernyataan arsiteknya dengan rancangannya, setidaknya ini menurut saya pribadi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: