Kekeliruan Jurnalisme

Sebelumnya tulisan ini berkilas balik pada kejadian kurang lebih setengah tahun yang lalu, kala blog KAP lama mengulas Gramedia Expo. Hanya gara-gara menangkap informasi yang salah dan menyebarkannya secara kurang bertanggung jawab, berbagai pihak yang hidungnya tercocok langsung menanggapi tulisan saya, bahkan sampai pada elite terpuncak: si arsitek sendiri, Ridwan Kamil. Permasalahannya bukan cuma berhenti sampai disitu, ketika saya akhirnya menyadari kekhilafan saya pun, orang-orang (baca: teman-teman sejawat) tetap berada pada kubu yang memojokkan saya. Pelacur, penjilat, pecundang sejati, adalah beberapa kata terhalus yang sempat ditempelkan ke jidat saya.

Penghinaan semakin menjadi diakibatkan saya terpaksa tidak dapat menghadiri acara Ridwan Kamil di Gramedia Expo untuk mempresentasikan benda yang dia rancang sendiri itu di dalam benda itu sendiri. Dengan dalih sejujur-jujurnya, bahwa saya memang ada halangan yang sungguh mendesak, orang-orang (sekali lagi baca: teman-teman sejawat) semakin mempresto kehormatan saya sampai pada kelunakan tulang yang lebih lunak daripada Bandeng Presto. AM Putra yang dulu pecundang ternyata memang benar-benar pecundang, diberi kesempatan kedua untuk memperbaiki reputasinya malah lari dan mengakui kepecundangannya. Begitu intisari yang terlontar dari mulut-mulut pedas itu.

Bandeng Presto, Photo Courtesy of Archiaston Musamma

Hingga hari ini pun, perihal ini masih menjadi salah satu kunci yang dimanfaatkan untuk mengusik pintu ketenangan hidup saya, plus vakumisasi yang saya berlakukan untuk blog ini. Dan alasan saya hingga hari ini pun masih tetap sama: itu adalah kekhilafan saya dalam mencerna berita yang kurang cerna kebenarannya. Saya sebut hal ini: Kekeliruan Jurnalisme. Inti dari idenya adalah sebuah kepribadian yang selalu menggunakan tameng terkokoh dalam melindungi dirinya dan menggunakan pedang tertajam untuk melukai orang lain. Ketika diri sendiri dilecehkan, maka secara waras dia akan melakukan pembelaan dengan sebaik-baiknya, dengan bahasa dan ungkapan yang terhalus dan terpantas. Namun ketika orang lain yang terleceh, sebaliknya dia akan menggunakan kalimat-kalimat yang merepresentasikan hal-hal terburuk yang pernah digunakan manusia untuk merendahkan orang lain.

Gramedia Expo, Photo Courtesy of Tjan Iwe

Tulisan kedua setelah enam bulan ini tercetus sebagai konsekuensi dari acara cangkruk (semacam nongkrong ala arek Suroboyo) di sebuah warung di dekat kampus kurang-tercinta. Hari itu teman-teman datang sambil membawa seonggok makhluk yang rupanya lidahnya sudah terasah tajam; pengalaman bersales bertahun-tahun. Beliau-lah yang menginspirasi saya dengan istilah baru-baru-lama ini, dan saya juga sangat berterima kasih atas masukan-masukan beliau yang menyebabkan blog ini terpaksa ketambahan satu tulisan baru. Sebagai tambahan, Kekeliruan Jurnalisme ini terinspirasi dari istilah fenomena ‘keseleo lidah’ dalam psikoanalisis yang dicetuskan Sigmund Freud. Demikian hal sederhana yang dapat saya sampaikan. Dan soal Gramedia Expo, tadi siang untuk pertama kalinya kunjungan saya ke sana, saya langsung menyadari bahwa sebetulnya saya tidak benar-benar salah dalam menyimpulkan bahwa Gramedia Expo adalah ‘nyampah’. Namun hal ini akan disambung ketik di lain kesempatan, jadi tunggu saja. Untung-untung kalau itu tidak terwujud lebih dari enam bulan kedepan. Insya Allah!

Iklan

10 Responses to Kekeliruan Jurnalisme

  1. satriopiningit berkata:

    Assalamu’alaikum ron!
    lama tak basuo di dunia maya…. lha soale blogmu wis ga tau kon publikasino maneh ng milis se… lha begitu kesebut ng milis langsung tak parani saiki…

    wah aku ga nganggit awakmu nanggepi serius ron. pekoro gacorane arek2 iku lak lumrah ta… sudah umum itu…sudah wajar.

    “Pelacur, penjilat, pecundang sejati, adalah beberapa kata terhalus yang sempat ditempelkan ke jidat saya.”

    terlalu berlebihan ron… beneran tah iku… ato cuman hiperbolis ae???

  2. AM Putra berkata:

    Itu benar-benar kata-kata yang dialamatkan ke jidatku, Bung Satrio. Benar-benar.

  3. Landy berkata:

    Ada apa ini ????

  4. AM Putra berkata:

    Mungkin bagi yang belum tahu apa yang terjadi dengan KAP lama masih bingung tentang apa yang terjadi. Begini cerita singkatnya: Dahulu, saya pernah menulis bahwa Gramedia Expo Surabaya (yang waktu itu masih belum dibangun) gak lebih dari ‘nyampah’ karena ditengarai Ridwan Kamil, si arsitek, meniru sebuah bangunan karya dia sendiri di Jakarta. Nah, si arsitek protes dan menulis komentar ke KAP-lama, mengakibatkan saya harus meminta maaf atas tulisan saya yang kurang memiliki dasar. Lama berlalu, dan saya mencoba untuk mengulas lagi perkara Gramedia Expo ini. Tulisan ini adalah pembuka sebelum ulasan, mengingatkan sekali lagi yang dulu-dulu.

  5. glenk berkata:

    ron salah, bukan “kekeliruan jurnalisme”
    tapi: “KESALAHAN JURNALISTIK”

  6. AM Putra berkata:

    Penyesuaian kata Glenk. Keliru bukan salah sebab deviasi terhadap data memiliki derajat yang tidak biner. Jurnalisme dan bukan jurnalistik sebab mengacu pada sebuah paham dan bukan bersifat paham. CMIIW.

  7. glenk berkata:

    Kaitannya bukan dengan kebenaran penulisannya ron tapi :
    1.runtutan sejarahnya,
    2.lebih “menjual” kesalahan jurnalistik ketimbang kekeliruan jurnalisme, sebab dalam hal “egronimis cangkem” lebih lanyah “kesalahan jurnalistik” ketimbang “kekeliruan jurnalisme” pada akhiran kata TIK terasa menekan dan naik, sedangkan ME terasa turun, dan suku kata kesalahan jurnalistik lebih sedikit, jd lebih gampang diingat…

    Kaitane dengan bikin tagline promosi film biar menjual, percuma bikin pilm tp ga bisa ngejualnya, lek ga payu g iso bikin sekuel-prekuelnya hihihk….

    Wassalam

  8. endy berkata:

    saya tidak yakin gambar yang ditampilkan adalah bandeng presto, jika penglihatan saya benar, gambar yang tertampil adalah bandeng goreng konvensional, bandeng presto akan hancur apabila diiris seperti pada gambar,
    sekali lagi, mungkin itu hanyalah kekeliruan jurnalisme…
    karena itu, hati-hati sebelum berujar…

  9. AM Putra berkata:

    @glenk: Oke, gak usah terlalu diambil pusing karena sudah ditulis sambungannya:

    https://pecundang.wordpress.com/2008/04/21/kekeliruan-jurnalisme-untuk-berarsitektur/

    @Endy: Waduh, ya juga. Lain kali saya akan lebih berhati-hati untuk memilih bandeng yang akan digoreng. Kekeliruan Jurnalisme works…on its own pioneer.

  10. ridwan kamil berkata:

    mas putra,

    Silakan berpolemik, kl masih belum puas. Anda punya bakat ilmiah.
    Asalkan ilmiah sy akan respon juga secara bertanggung jawab. Sy yakin pendidikan di ITS melatih anda untuk cukup dewasa utk mengulas kritik arsitektur secara baik.

    Salam,

    Ridwan kamil

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: