Eklektikisme Mie Kocok Bandung

//www.flickr.com/photos/coffeefloat/81280792/in/pool-bandungfood/)

Mie Kocok Bandung

Ketika mendengar bahwa di Jalan Walikota Mustajab akan dibuka depot Mie Kocok Bandung, saya langsung tertarik. Konon Mie ini sangat terkenal di kota asalnya, dan begitu dibuka cabangnya di Surabaya, antusiaslah warga. Berkali-kali saya berminat untuk mencoba hidangan ini, tapi berkali-kali pula batal, ini dikarenakan sedemikian membludaknya pengunjung yang datang. Dan akhirnya, pada sebuah kesempatan saya beserta keluarga berhasil juga duduk dan memesan Mie Kocok Bandung Mustajab. Harganya pun relatif terjangkau bagi kalangan menengah.

Namun begitu saya menyantapnya, saya termangu. Mienya benar-benar hambar, bahkan lebih terasa seperti minum air sabun. Saya keheranan, bagaimana mungkin Mie sehambar ini bisa begitu diminati warga? Di mangkuk saya melihat mie tipis –pangsit-, kikil, dan kecambah; tapi saya sama sekali tidak merasakan karakter dari masing-masing bahan tersebut. Masing-masing bahan memang memiliki potensi untuk menjadi hidangan yang lezat, tapi kali ini yang ada malah justru sebaliknya. Yang saya tangkap dari Mie Kocok Bandung Mustajab ini justru eklektikisme: mie, kikil, dan kecambah yang digabung begitu saja tapi nol rasanya.

//picasaweb.google.com/lh/photo/y4OkaLuS4MOSz-vU1wZ2yw)
Bangunan Eklektik

Rupanya kegiatan eklektikisme dalam dunia arsitektur, yang akhirnya menuai kutukan, juga terjadi pada dunia kuliner. Meski berada pada dua ranah yang berbeda, keduanya memiliki dampak yang sama: hingar-bingar yang malah memberikan hadiran hambar. Charles Jencks menamai fenomena ini dengan Radical Eclecticism, dimana apabila langgam dari berbagai sumber digabung, ia justru akan kehilangan keseluruhan pemaknaan. Meski dikutuk dan sedemikian hina, kita tidak perlu khawatir karena hingga hari ini masih ada juga arsitek yang menerapkan nilai-nilai eklektik dalam rancangannya.

Tidak percaya? Datang saja ke kota Surabaya, gudangnya gegedung eklektik amburadulajur. Dan kalau masih belum tahu yang mana, menujulah ke daerah Pakuwon. Temukanlah gugusan ruko yang mengambil konsep “miniatur gedung terkenal di dunia”. Rumor menyebutkan ruko ini karena sangat kesohor seantero kota, harga jualnya membumbung tinggi, walau bukan tak mungkin penyewa pada malu kalau kantornya berupa ‘gedung-gedungan’. Dan untuk lebih menambah ke-fantastis-an, di tengah-tengah komplek akan didirikan bangunan yang katanya akan diberdayakan sebagai kantor, ruko, atau apalah, yang penting semua ada disana. Saking lengkapnya, bahkan sampai jalan kendaraan yang asalnya lurus lempeng harus dibengkokkan dalam rangka memperkuat kenorakan eklektiknya, sehingga otomatis romantis mengurangi kenyamanan mengemudi.

Kalau Bandung punya Mie Kocok, maka dengan bangga saya sebagai Arek Suroboyo mempersembahkan Gegedung Kocok. Saya maklum Mie Kocok itu sebetulnya enak, cuma kebetulan penyajinya saja yang kurang tokcer. Tapi yakinlah bahwa produk asli Surabaya ini adalah murni keisengan merancang. Dan tinggal menunggu waktu saja hal ini akan menjadi bahan tertawaan para arsitek lokal yang masih waras –kalau ada-. Sebenarnya kasus semacam ini tidak hanya menimpa arsitek kelas teri; Frank O. Gehry pun pernah terkena penyakit sindrom eklektikisme. Karya beliau yang disorot adalah Loyola Law School, yang pada awalnya adalah usaha Gehry untuk menghina nilai-nilai klasik yang dimunculkan mentah-mentah oleh beberapa Post Modernis kala itu. Tapi hasilnya justru sesuatu yang campur aduk: sebuah palazzo, igloo, kuil ziggurat, dll. Untung sekarang Gehry sudah sembuh namun malah terjangkit penyakit ‘perupa ikan’.

Complete Works)
Loyola Law School

Demikianlah sedikit mengenai dampak penyakit mematikan ini. Sehingga bila anda bertemu seorang arsitek dan menanyakan, “sudahkah anda minum eklektikisme hari ini?” Dan dijawab, “saya minum dua!” Bersiaplah untuk menjaga jarak dengannya.

Iklan

13 Responses to Eklektikisme Mie Kocok Bandung

  1. Agung berkata:

    …kok dadi alusan saiki tulisane
    gak sepiro’o menohok2…
    hihi…

    masalah eklektikisme,

    aku yakin ga ada arsitek(lulusannya) yang senang dg
    mencampur segala yang bagus (enak2) diublek menjadi sbh adonan karya. aku yakin setiap-tiap arsitek(lulusannya) sudah diajari pd waktu kuliah bahwa tindakan merancang kyk tsb tidak dianjurkan oleh dosen2 mereka.

    namun pd kenyataannya duwit berbicara, owner senang yg kyk gini-gitu dan semua-muanya mau termaktup dalam pesanan masakannya kepada sang arsitek. jadi mau-tidak-mau kita kudu menerapkan ‘win-win solution’ owner senang kita senang(dpt koneksi & duwit).

    gitu kali yey…thx

    wassalam wr.wb

  2. AM Putra berkata:

    Tapi apakah kenyataan selalu memaksa kita untuk mau-tak-mau bereklektik? Apa yang mereka inginkan belum tentu itu yang sebenarnya mereka butuhkan. Tindakan seperti memberikan studi kasus dan ‘kuliah’ kepada klien -yang kebanyakan beruang tapi nir-ilmu- setidaknya akan membuka pemahaman mereka.

  3. Vira berkata:

    hehehe…
    sebenerny ya ron… aq aj lupa apa itu eklektisme (hadoohh parah)
    jadi ya rada2 ga nyambung…

  4. AM Putra berkata:

    Eklektikisme adalah salah satu langgam dalam arsitektur (atau mungkin dalam perkara lain) dimana si perancang memasukkan unsur andalan dari langgam-langgam tertentu, untuk kemudian digabung dalam satu gubahan. Katakanlah kolom ala Kuil Yunani digabung dengan atap runcing ala Gothic digabung dengan ornamen dinding ala Oriental.

  5. Azhim berkata:

    tapi ron, kamu udah pernah nyicip “rujak soto” belum? 🙂
    makasih buat robie atas hidangan “rujak soto”-rujak soto”nya selama di banyuwangi… thanks bro 🙂

  6. AM Putra berkata:

    Belum. Enak?

  7. tinta maya berkata:

    bagus tuh……artikelnya…….klo ak emang bukan dari dunia studi perupa/arsitektur melainkan jurnalistik………..
    penggabungan tema mie kocok dgn eklektikisme….menjadi sebuah news page (cantolan berita) yang padu namun tidak begitu dipaksakan…….

    bener lo….. pas browsing mi kocok surabaya kok larinya ke tema desain gedung. mantap bro, meski terkecoh tapi ak suka. sukses!!!

  8. AM Putra berkata:

    Matur nuwun Mbak!

  9. Datyo berkata:

    Halah, menurutku arep nggawe desain eklektikisme yo gak popo. Owner-e pokok seneng…trus awak dhewene yo seneng ndesain sing rodok gendheng, anggep ae iku jenis aliran baru…paling 5 tahun maneh, pas lewat gedung iku, peno misuh misuh…diamp..t aku wingi ndesain opo rek…!
    Tapi yo gak popo…mbalik maneh iku proses belajar…awak dhewene di protes, digoblok goblokno uwong yo gak popo…paling nggak peno ngerti…oalah desainku tiba’e ndesit…lak gak ngono gak wani wani mencoba…iki pendapatku lho!!! juga tidak semua orang setuju..ya gak papa..

  10. endy berkata:

    setuju bung…
    mie kocok saya yakin banyak orang bilang tidak enak.. hambar.. dan sebagainya… perkara dia masih ramai, itu hanya penyakit tren..penyakit tren!!!, apa yang sedang ngetren saat ini semua mengikuti… termasuk di dunia arsitektur, apa yang sedang tren saat ini, bloody hell!!!… semua mengikuti…, hanya masalah waktu, mie kocok bandung yang tersohor akan kehilangan pelanggannya yang sudah mulai sadar, hanya masalah waktu arsitektur dan arsiteknya yang sekedar ikutan tren akan kehilngan kanvasnya untuk berkarya dan akhirnya….mati.

  11. AM Putra berkata:

    @Datyo: Mbalik maneh nang perkara yen pengen ngarsitek iku ya kudu ngerti ilmue. Lha wong pengen nggawe anak ae ana ilmune ana teorine ana studi kasuse; iso seh langsung jeblus tapi kan maleh ketok ora mencerminkan kesarjanaan kita.

    Seng aku sadar ya iku Mas, nek selama 4 tahun kuliah, 1 tahun mutung, aku kerasa nek aku iku ora entuk apa-apa. Masi aku ngelamar nang biro arsitek, aku yakin ilmu sing paling tak entuk ya ilmu nge-CAD karo nge-render, duduk ilmu arsitektur-e dewe.

    @Endy: Tren itu mau gak mau kita nggak bisa mengacuhkannya. Kita boleh terseret arus asal tidak menggerus trademark kita. Yang penting punya pertanggung jawaban ilmiah, nggak sekedar buat trus isinya kopong. Komersil? Wallahualam. Haha, jadi ingat seseorang.

  12. sulurliar berkata:

    lha paduan petis, gedhang kluthuk, sak jumput trasi , lombok, gulo jowo dikepyuri bawang putih terus diuleg dadi bumbune rujak cingur iku opo yo panganan eklektisime?

    tambahane macem-macem iso bengkuang, kates, timun, bendoyo, jambu mente, pencit, dsb.

    gak tambah eneg, tapi tambah enk lho rek…

    lha iki yo panganan eklektisime ta?

    bek-bek’e sing jenenge bangunan eklektisisme iku ono sing apik rek, gak kabeh ambuladulajur….

    wong rujak sing campur aduk ae nek bumbune tepak iso dadi enak….
    bangunan eklektisisme nek nyampure tepak, be’e yo dadi apik?

    menurutku gedung sebelah tengen-e pelni iku eklektisisme, tapi apik….

  13. AM Putra berkata:

    Bermacam-macam buah seketika menjadi rujak cingur ketika digepuk dengan bumbu petis. Ini membuktikan bahwa yang mulanya unsur terpisah menjadi kesatuan yang baru lagi padu. Tentu saja buah yang dipilih pun tidak sembarangan, harus yang memiliki sambungan satu sama lain sehingga rujak itu menghasilkan rasa yang seharusnya muncul.

    Tapi akan menjadi perkara bila si pengolah itu memutuskan untuk memasukkan berbagai buah secara serampangan, asal buah itu enak, lezat, segar, maka begitu saja diopyok jadi rujak. Sehingga meski disatukan dengan petis pun, rujak itu dipastikan berantakan. Disini saya memaksudkan eklektikisme itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: