<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Kami Arsitek Pecundang</title>
	<atom:link href="http://pecundang.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pecundang.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Mon, 21 Apr 2008 16:00:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='pecundang.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Kami Arsitek Pecundang</title>
		<link>http://pecundang.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://pecundang.wordpress.com/osd.xml" title="Kami Arsitek Pecundang" />
	<atom:link rel='hub' href='http://pecundang.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Kekeliruan Jurnalisme untuk Berarsitektur</title>
		<link>http://pecundang.wordpress.com/2008/04/21/kekeliruan-jurnalisme-untuk-berarsitektur/</link>
		<comments>http://pecundang.wordpress.com/2008/04/21/kekeliruan-jurnalisme-untuk-berarsitektur/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Apr 2008 14:43:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>AM Putra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arsitektur]]></category>
		<category><![CDATA[Kekeliruan Arsitektural]]></category>
		<category><![CDATA[Kekeliruan Jurnalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Topeng Monyet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pecundang.wordpress.com/?p=95</guid>
		<description><![CDATA[Kekeliruan seseorang dapat dimanfaatkan untuk keuntungan pribadi. Bila anda pejabat penting sebuah negara dan anda keliru menyimpan rekaman bugil-bareng-simpanan di tempat yang tidak tepat, maka hampir pasti pedagang informasi akan mendapat rejeki dari kekeliruan anda. Istilah &#8216;berita yang baik adalah berita buruk&#8217; menjadi kalimat implisit yang jelas disini. Dan coba cari saja sarana informasi mana [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pecundang.wordpress.com&amp;blog=1500409&amp;post=95&amp;subd=pecundang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kekeliruan seseorang dapat dimanfaatkan untuk keuntungan pribadi. Bila anda pejabat penting sebuah negara dan anda keliru menyimpan rekaman bugil-bareng-simpanan di tempat yang tidak tepat, maka hampir pasti pedagang informasi akan mendapat rejeki dari kekeliruan anda. Istilah &#8216;berita yang baik adalah berita buruk&#8217; menjadi kalimat implisit yang jelas disini. Dan coba cari saja sarana informasi mana yang mampu bertahan hanya dengan menampilkan berita baik yang baik. Bahkan tabloid religius pun masih harus mendramatisir kematian seseorang. Ini saya namai Kekeliruan Jurnalisme, beberapa pihak lebih sreg Kesalahan Jurnalistik, namun dua-duanya tidak terlalu perlu diperdebatkan.<span id="more-95"></span></p>
<p>Sekarang mari kita melompat ke ranah arsitektur. Mungkinkah <a href="http://pecundang.wordpress.com/2008/04/05/kekeliruan-jurnalisme/">Kekeliruan Jurnalisme</a> (KeJu) bisa diterapkan ke dalamnya? Begini gambarannya:</p>
<ol>
<li>Anda/pihak lain melakukan KeJu, lalu itu dimanfaatkan untuk berarsitektur.</li>
<li>Ketika Anda memanfaatkan KeJu itu, ternyata terjadi lagi KeJu alternatif.</li>
<li>Pihak lain yang melihat fenomena ini, memanfaatkan KeJu itu untuk kepentingan pribadinya.</li>
<li>Dan seterusnya, dan seterusnya&#8230;</li>
</ol>
<p>Dan ternyata, setelah pembacaan terhadap pasang surut arsitektur mancanegara, memang sebuah arsitektur -baik itu rancangan, pemikiran/teori, kejadian seputar arsitektur- memang berkutat pada Kekeliruan Jurnalisme, atau lebih tepatnya bisa saya suaikan menjadi Kekeliruan Arsitektural. Lihat saja ketika Eisenman merancang House VI yang kontroversial itu, yang bahkan oleh penghuninya/klien pada akhirnya sampai memutuskan untuk pindah akibat kedalaman teori si arsitek dan menulis kritik terhadap karya rancang. Di sudut lain, ternyata justru preseden House VI ini menjadi potensi studi yang menarik, mengingat rancangan lebih sukses secara teoritikal ketimbang terbangun.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://pecundang.files.wordpress.com/2008/04/house-vi.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-96 aligncenter" src="http://pecundang.files.wordpress.com/2008/04/house-vi.jpg?w=300&#038;h=119" alt="" width="300" height="119" /></a></p>
<p>Ketika seorang arsitek merancang, dia pasti akan mencari obyek terbangun lain yang mirip sebagai pembanding. Dalam pencariannya, dia akan menemukan bahwa ada kasus yang cocok dan bisa diterapkan, dan ada yang sebaliknya. Ada kasus yang merupakan contoh buruk, ada kasus yang bisa dijadikan teladan. Ini berarti dia memanfaatkan Kekeliruan Arsitektural sebagai koridor rancangnya, setidaknya secara manfaat. Walaupun bisa juga terjadi fakta yang lebih konyol:</p>
<ol>
<li>Dia menemukan contoh preseden yang menurut dia menarik, bahkan tanpa dibaca dulu dengan komprehensif apa konteksnya. Lalu secara sembrono dia tempelkan begitu saja pada rancangannya; akibatnya, hasil yang keluar adalah semacam Topeng Monyet.</li>
<li>Ada orang awam, umumnya kebingungan uangnya yang melimpah mau diapakan, secara tak sengaja melihat preseden arsitektur yang menarik perhatiannya. Segera dia panggil arsitek dan disuruhnya untuk menggambarkan (bukan merancangkan) apa yang si empunya gawe mau. Jelas hasil salin-jiplak masih membawa genetik karya aslinya (tapi cuma Topeng Monyet) dan otomatis ada unsur kebagusannya. Maka ketika ada orang-kaya-nganggur lain tertarik dengan Topeng Monyet ini, dia segera menyuruh arsitek untuk menggambarkan keinginannya, dst. Ini adalah Kekeliruan Arsitektural ala MLM.</li>
</ol>
<p>Alhasil, kita hidup dalam sebuah lingkaran yang bertopeng, kosong dari esensi. Kita bernafas oksigen bercampur polusi dan bau cor-coran beton yang tersia-sia. Mata kita dihasut fatamorgana pernak-pernik yang dianggap sebagai lingkung bina arsitektural. Kenyataannya: Kekeliruan Arsitektural adalah sistem yang menjerat hingga jauh ke dalam urat nadi. Kita merancang Topeng Monyet. Kita berteori tentang Kekeliruan. Kita manusia memang selalu keliru.</p>
<p>&#8220;Kita berencana dan Tuhan menertawakannya.&#8221; Pepatah Yahudi Jerman.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pecundang.wordpress.com/95/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pecundang.wordpress.com/95/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pecundang.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pecundang.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pecundang.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pecundang.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pecundang.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pecundang.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pecundang.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pecundang.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pecundang.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pecundang.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pecundang.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pecundang.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pecundang.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pecundang.wordpress.com/95/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pecundang.wordpress.com&amp;blog=1500409&amp;post=95&amp;subd=pecundang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pecundang.wordpress.com/2008/04/21/kekeliruan-jurnalisme-untuk-berarsitektur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6a4de686aa142d08d285e595d105bf06?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Putra</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pecundang.files.wordpress.com/2008/04/house-vi.jpg?w=300" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Kekeliruan Jurnalisme</title>
		<link>http://pecundang.wordpress.com/2008/04/05/kekeliruan-jurnalisme/</link>
		<comments>http://pecundang.wordpress.com/2008/04/05/kekeliruan-jurnalisme/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Apr 2008 01:25:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>AM Putra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arsitektur]]></category>
		<category><![CDATA[Pecundang]]></category>
		<category><![CDATA[Gramedia Expo]]></category>
		<category><![CDATA[Jurnalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Sampah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pecundang.wordpress.com/?p=92</guid>
		<description><![CDATA[Sebelumnya tulisan ini berkilas balik pada kejadian kurang lebih setengah tahun yang lalu, kala blog KAP lama mengulas Gramedia Expo. Hanya gara-gara menangkap informasi yang salah dan menyebarkannya secara kurang bertanggung jawab, berbagai pihak yang hidungnya tercocok langsung menanggapi tulisan saya, bahkan sampai pada elite terpuncak: si arsitek sendiri, Ridwan Kamil. Permasalahannya bukan cuma berhenti [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pecundang.wordpress.com&amp;blog=1500409&amp;post=92&amp;subd=pecundang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebelumnya tulisan ini berkilas balik pada kejadian kurang lebih setengah tahun yang lalu, kala blog KAP lama mengulas Gramedia Expo. Hanya gara-gara menangkap informasi yang salah dan menyebarkannya secara kurang bertanggung jawab, berbagai pihak yang hidungnya tercocok langsung menanggapi tulisan saya, bahkan sampai pada elite terpuncak: si arsitek sendiri, Ridwan Kamil. Permasalahannya bukan cuma berhenti sampai disitu, ketika saya akhirnya menyadari kekhilafan saya pun, orang-orang (baca: teman-teman sejawat) tetap berada pada kubu yang memojokkan saya. Pelacur, penjilat, pecundang sejati, adalah beberapa kata terhalus yang sempat ditempelkan ke jidat saya.<span id="more-92"></span></p>
<p>Penghinaan semakin menjadi diakibatkan saya terpaksa tidak dapat menghadiri acara Ridwan Kamil di Gramedia Expo untuk mempresentasikan benda yang dia rancang sendiri itu di dalam benda itu sendiri. Dengan dalih sejujur-jujurnya, bahwa saya memang ada halangan yang sungguh mendesak, orang-orang (sekali lagi baca: teman-teman sejawat) semakin mempresto kehormatan saya sampai pada kelunakan tulang yang lebih lunak daripada Bandeng Presto. <em>AM Putra yang dulu pecundang ternyata memang benar-benar pecundang, diberi kesempatan kedua untuk memperbaiki reputasinya malah lari dan mengakui kepecundangannya. </em>Begitu intisari yang terlontar dari mulut-mulut pedas itu.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://pecundang.files.wordpress.com/2008/04/bandeng-presto.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-93" src="http://pecundang.files.wordpress.com/2008/04/bandeng-presto.jpg?w=418&#038;h=314" alt="Bandeng Presto, Photo Courtesy of Archiaston Musamma" width="418" height="314" /></a></p>
<p>Hingga hari ini pun, perihal ini masih menjadi salah satu kunci yang dimanfaatkan untuk mengusik pintu ketenangan hidup saya, plus vakumisasi yang saya berlakukan untuk blog ini. Dan alasan saya hingga hari ini pun masih tetap sama: itu adalah kekhilafan saya dalam mencerna berita yang kurang cerna kebenarannya. Saya sebut hal ini: <strong>Kekeliruan Jurnalisme</strong>. Inti dari idenya adalah sebuah kepribadian yang selalu menggunakan tameng terkokoh dalam melindungi dirinya dan menggunakan pedang tertajam untuk melukai orang lain. Ketika diri sendiri dilecehkan, maka secara waras dia akan melakukan pembelaan dengan sebaik-baiknya, dengan bahasa dan ungkapan yang terhalus dan terpantas. Namun ketika orang lain yang terleceh, sebaliknya dia akan menggunakan kalimat-kalimat yang merepresentasikan hal-hal terburuk yang pernah digunakan manusia untuk merendahkan orang lain.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://pecundang.files.wordpress.com/2008/04/gramedia-expo.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-94" src="http://pecundang.files.wordpress.com/2008/04/gramedia-expo.jpg?w=422&#038;h=317" alt="Gramedia Expo, Photo Courtesy of Tjan Iwe" width="422" height="317" /></a></p>
<p>Tulisan kedua setelah enam bulan ini tercetus sebagai konsekuensi dari acara <em>cangkruk</em> (semacam nongkrong ala <em>arek Suroboyo</em>) di sebuah warung di dekat kampus kurang-tercinta. Hari itu teman-teman datang sambil membawa seonggok makhluk yang rupanya lidahnya sudah terasah tajam; pengalaman bersales bertahun-tahun. Beliau-lah yang menginspirasi saya dengan istilah baru-baru-lama ini, dan saya juga sangat berterima kasih atas masukan-masukan beliau yang menyebabkan blog ini terpaksa ketambahan satu tulisan baru. Sebagai tambahan, <strong>Kekeliruan Jurnalisme</strong> ini terinspirasi dari istilah fenomena  &#8216;keseleo lidah&#8217; dalam psikoanalisis yang dicetuskan Sigmund Freud. Demikian hal sederhana yang dapat saya sampaikan. Dan soal Gramedia Expo, tadi siang untuk pertama kalinya kunjungan saya ke sana, saya langsung menyadari bahwa sebetulnya saya tidak benar-benar salah dalam menyimpulkan bahwa Gramedia Expo adalah &#8216;nyampah&#8217;. Namun hal ini akan disambung ketik di lain kesempatan, jadi tunggu saja. Untung-untung kalau itu tidak terwujud lebih dari enam bulan kedepan. Insya Allah!</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pecundang.wordpress.com/92/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pecundang.wordpress.com/92/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pecundang.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pecundang.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pecundang.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pecundang.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pecundang.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pecundang.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pecundang.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pecundang.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pecundang.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pecundang.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pecundang.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pecundang.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pecundang.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pecundang.wordpress.com/92/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pecundang.wordpress.com&amp;blog=1500409&amp;post=92&amp;subd=pecundang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pecundang.wordpress.com/2008/04/05/kekeliruan-jurnalisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6a4de686aa142d08d285e595d105bf06?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Putra</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pecundang.files.wordpress.com/2008/04/bandeng-presto.jpg?w=400" medium="image">
			<media:title type="html">Bandeng Presto, Photo Courtesy of Archiaston Musamma</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pecundang.files.wordpress.com/2008/04/gramedia-expo.jpg?w=400" medium="image">
			<media:title type="html">Gramedia Expo, Photo Courtesy of Tjan Iwe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Eklektikisme Mie Kocok Bandung</title>
		<link>http://pecundang.wordpress.com/2008/01/30/eklektikisme-mie-kocok-bandung/</link>
		<comments>http://pecundang.wordpress.com/2008/01/30/eklektikisme-mie-kocok-bandung/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Jan 2008 13:58:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>AM Putra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arsitektur]]></category>
		<category><![CDATA[eklektikisme]]></category>
		<category><![CDATA[mie kocok bandung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pecundang.wordpress.com/?p=91</guid>
		<description><![CDATA[Mie Kocok Bandung Ketika mendengar bahwa di Jalan Walikota Mustajab akan dibuka depot Mie Kocok Bandung, saya langsung tertarik. Konon Mie ini sangat terkenal di kota asalnya, dan begitu dibuka cabangnya di Surabaya, antusiaslah warga. Berkali-kali saya berminat untuk mencoba hidangan ini, tapi berkali-kali pula batal, ini dikarenakan sedemikian membludaknya pengunjung yang datang. Dan akhirnya, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pecundang.wordpress.com&amp;blog=1500409&amp;post=91&amp;subd=pecundang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="//www.flickr.com/photos/coffeefloat/81280792/in/pool-bandungfood/)" rel="attachment wp-att-88" href="http://pecundang.wordpress.com/2008/01/30/eklektikisme-mie-kocok-bandung/mie-kocok-bandung-gambar-dari-httpwwwflickrcomphotoscoffeefloat81280792inpool-bandungfood/"></a></p>
<div style="text-align:center;"><a title="//www.flickr.com/photos/coffeefloat/81280792/in/pool-bandungfood/)" rel="attachment wp-att-88" href="http://pecundang.wordpress.com/2008/01/30/eklektikisme-mie-kocok-bandung/mie-kocok-bandung-gambar-dari-httpwwwflickrcomphotoscoffeefloat81280792inpool-bandungfood/"><img src="http://pecundang.files.wordpress.com/2008/01/mie-kocok-bandung.jpg?w=450" alt="//www.flickr.com/photos/coffeefloat/81280792/in/pool-bandungfood/)" /></a></div>
<p align="center"><em>Mie Kocok Bandung </em></p>
<p class="MsoNormal"><span>Ketika mendengar bahwa di Jalan Walikota Mustajab akan dibuka depot Mie Kocok Bandung, saya langsung tertarik. Konon Mie ini sangat terkenal di kota asalnya, dan begitu dibuka cabangnya di Surabaya, antusiaslah warga. Berkali-kali saya berminat untuk mencoba hidangan ini, tapi berkali-kali pula batal, ini dikarenakan sedemikian membludaknya pengunjung yang datang. Dan akhirnya, pada sebuah kesempatan saya beserta keluarga berhasil juga duduk dan memesan Mie Kocok Bandung Mustajab. Harganya pun relatif terjangkau bagi kalangan menengah.</span><span id="more-91"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Namun begitu saya menyantapnya, saya termangu. Mienya benar-benar hambar, bahkan lebih terasa seperti minum air sabun. Saya keheranan, bagaimana mungkin Mie sehambar ini bisa begitu diminati warga? Di mangkuk saya melihat mie tipis –pangsit-, kikil, dan kecambah; tapi saya sama sekali tidak merasakan karakter dari masing-masing bahan tersebut. Masing-masing bahan memang memiliki potensi untuk menjadi hidangan yang lezat, tapi kali ini yang ada malah justru sebaliknya. Yang saya tangkap dari Mie Kocok Bandung Mustajab ini justru eklektikisme: mie, kikil, dan kecambah yang digabung begitu saja tapi nol rasanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><a title="//picasaweb.google.com/lh/photo/y4OkaLuS4MOSz-vU1wZ2yw)" rel="attachment wp-att-89" href="http://pecundang.wordpress.com/2008/01/30/eklektikisme-mie-kocok-bandung/gedung-berlanggam-eklektik-dari-httppicasawebgooglecomlhphotoy4okalus4mosz-vu1wz2yw/"></a></p>
<div style="text-align:center;"><a title="//picasaweb.google.com/lh/photo/y4OkaLuS4MOSz-vU1wZ2yw)" rel="attachment wp-att-89" href="http://pecundang.wordpress.com/2008/01/30/eklektikisme-mie-kocok-bandung/gedung-berlanggam-eklektik-dari-httppicasawebgooglecomlhphotoy4okalus4mosz-vu1wz2yw/"><img src="http://pecundang.files.wordpress.com/2008/01/eklektikisme-arsitektural.jpg?w=450" alt="//picasaweb.google.com/lh/photo/y4OkaLuS4MOSz-vU1wZ2yw)" /></a></div>
<div><em>Bangunan Eklektik</em></div>
<p class="MsoNormal"><span>Rupanya kegiatan eklektikisme dalam dunia arsitektur, yang akhirnya menuai kutukan, juga terjadi pada dunia kuliner. Meski berada pada dua ranah yang berbeda, keduanya memiliki dampak yang sama: hingar-bingar yang malah memberikan hadiran hambar. Charles Jencks menamai fenomena ini dengan <em>Radical Eclecticism</em>, dimana apabila langgam dari berbagai sumber digabung, ia justru akan kehilangan keseluruhan pemaknaan. Meski dikutuk dan sedemikian hina, kita tidak perlu khawatir karena hingga hari ini masih ada juga arsitek yang menerapkan nilai-nilai eklektik dalam rancangannya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Tidak percaya? Datang saja ke kota Surabaya, gudangnya gegedung eklektik amburadulajur. Dan kalau masih belum tahu yang mana, menujulah ke daerah Pakuwon. Temukanlah gugusan ruko yang mengambil konsep “miniatur gedung terkenal di dunia”. Rumor menyebutkan ruko ini karena sangat kesohor seantero kota, harga jualnya membumbung tinggi, walau bukan tak mungkin penyewa pada malu kalau kantornya berupa ‘gedung-gedungan’. Dan untuk lebih menambah ke-fantastis-an, di tengah-tengah komplek akan didirikan bangunan yang katanya akan diberdayakan sebagai kantor, ruko, atau apalah, yang penting semua ada disana. Saking lengkapnya, bahkan sampai jalan kendaraan yang asalnya lurus lempeng harus dibengkokkan dalam rangka memperkuat kenorakan eklektiknya, sehingga otomatis romantis mengurangi kenyamanan mengemudi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kalau Bandung punya Mie Kocok, maka dengan bangga saya sebagai <em>Arek Suroboyo</em> mempersembahkan Gegedung Kocok. Saya maklum Mie Kocok itu sebetulnya enak, cuma kebetulan penyajinya saja yang kurang tokcer. Tapi yakinlah bahwa produk asli Surabaya ini adalah murni keisengan merancang. Dan tinggal menunggu waktu saja hal ini akan menjadi bahan tertawaan para arsitek lokal yang masih waras –kalau ada-. Sebenarnya kasus semacam ini tidak hanya menimpa arsitek kelas teri; Frank O. Gehry pun pernah terkena penyakit sindrom eklektikisme. Karya beliau yang disorot adalah Loyola Law School, yang pada awalnya adalah usaha Gehry untuk menghina nilai-nilai klasik yang dimunculkan mentah-mentah oleh beberapa Post Modernis kala itu. Tapi hasilnya justru sesuatu yang campur aduk: sebuah <em>palazzo</em>, <em>igloo</em>, kuil ziggurat, dll. Untung sekarang Gehry sudah sembuh namun malah terjangkit penyakit ‘perupa ikan’.</span></p>
<p class="MsoNormal"><a title="Complete Works)" rel="attachment wp-att-90" href="http://pecundang.wordpress.com/2008/01/30/eklektikisme-mie-kocok-bandung/loyola-law-shool-dari-frank-o-gehry-complete-works/"></a></p>
<div style="text-align:center;"><a title="Complete Works)" rel="attachment wp-att-90" href="http://pecundang.wordpress.com/2008/01/30/eklektikisme-mie-kocok-bandung/loyola-law-shool-dari-frank-o-gehry-complete-works/"><img src="http://pecundang.files.wordpress.com/2008/01/loyola-law-school.jpg?w=450" alt="Complete Works)" /></a></div>
<div><em>Loyola Law School</em></div>
<p class="MsoNormal"><span>Demikianlah sedikit mengenai dampak penyakit mematikan ini. Sehingga bila anda bertemu seorang arsitek dan menanyakan, “sudahkah anda minum eklektikisme hari ini?” Dan dijawab, “saya minum dua!” Bersiaplah untuk menjaga jarak dengannya.</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pecundang.wordpress.com/91/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pecundang.wordpress.com/91/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pecundang.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pecundang.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pecundang.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pecundang.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pecundang.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pecundang.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pecundang.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pecundang.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pecundang.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pecundang.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pecundang.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pecundang.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pecundang.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pecundang.wordpress.com/91/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pecundang.wordpress.com&amp;blog=1500409&amp;post=91&amp;subd=pecundang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pecundang.wordpress.com/2008/01/30/eklektikisme-mie-kocok-bandung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6a4de686aa142d08d285e595d105bf06?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Putra</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pecundang.files.wordpress.com/2008/01/mie-kocok-bandung.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">//www.flickr.com/photos/coffeefloat/81280792/in/pool-bandungfood/)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pecundang.files.wordpress.com/2008/01/eklektikisme-arsitektural.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">//picasaweb.google.com/lh/photo/y4OkaLuS4MOSz-vU1wZ2yw)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pecundang.files.wordpress.com/2008/01/loyola-law-school.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Complete Works)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KAP Telah Berubah</title>
		<link>http://pecundang.wordpress.com/2008/01/27/kap-telah-berubah/</link>
		<comments>http://pecundang.wordpress.com/2008/01/27/kap-telah-berubah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Jan 2008 17:52:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>AM Putra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pecundang]]></category>
		<category><![CDATA[Segalanya]]></category>
		<category><![CDATA[Peraturan]]></category>
		<category><![CDATA[Perubahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pecundang.wordpress.com/?p=85</guid>
		<description><![CDATA[Entah apakah saya harus bangga atau prihatin dengan reformasi ini. Seperti yang sudah saya utarakan, blog KAP telah mengalami gelontoran badai kritik yang keras, yang memaksa saya untuk berpikir lagi untuk apa KAP ini dilahirkan: untuk apa? Makin lama, tumpukan pertanyaan itu semakin melimpah dan meledak, ada yang melenceng jalur dari KAP. Blog ini dimaksudkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pecundang.wordpress.com&amp;blog=1500409&amp;post=85&amp;subd=pecundang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Entah apakah saya harus bangga atau prihatin dengan reformasi ini. Seperti yang sudah saya utarakan, blog KAP telah mengalami gelontoran badai kritik yang keras, yang memaksa saya untuk berpikir lagi untuk apa KAP ini dilahirkan: untuk apa? Makin lama, tumpukan pertanyaan itu semakin melimpah dan meledak, ada yang melenceng jalur dari KAP. Blog ini dimaksudkan untuk mempertanyakan kemapanan -dari sudut pandang pecundang-, dan saya lupa bahwa ada darah yang mengalir, yang mungkin hanya dimiliki segelintir orang, cinta terhadap arsitektur. Saya arsitektur, saya pecundang, dan saya diterpa rasa marah sendirian, mengarungi kota Buaya yang panas luar biasa ini.<span id="more-85"></span></p>
<p>Kegundahan ini akhirnya mencetak embrio yang kemudian membuat saya memutuskan: KAP harus berubah. Berubah menuju arungan yang membangun, tidak sekedar membabi buta tanpa arah. Untuk itu sebelumnya saya harus mengucapkan terima kasih atas masukan dari teman-teman. KAP telah mengalami pencerahan yang sangat gelap, maka dari itu, diharapkan atmosfer ini akan tetap ada, menghantui dunia arsitektur yang sebagian sedang mengalami proses pengaratan. Seseorang, karyanya, pemikirannya, tidak akan dibabi buta melainkan akibat apa yang dia ciptakan sendiri, dan itu adalah konsep mutlak dari KAP. Terlebih lagi, bayangkan saja bila yang menjadi &#8220;Babi Buta&#8221; adalah tak lain seorang pecundang.</p>
<p>Oleh karenanya perombakan gila-gilaan terpaksa saya tunaikan. Pertama, seluruh tulisan terdahulu beserta komentarnya dengan berat hati harus saya hapus karena tidak tergolong dalam konsep KAP yang baru. Meskipun mungkin, masih ada beberapa yang memiliki relevansi dengan arsitektural, ada beberapa konten yang menyinggung pihak tertentu dan dikhawatirkan akan menjadi pemicu kerusuhan di waktu mendatang sehingga ikut terkena penghapusan. Kedua, halaman depan bukan lagi berisi post KAP, namun menjadi semacam pembuka sebuah website, sekaligus upaya saya untuk mengangkat atmosfer Kepecundangan. Untuk mengetahui tulisan terbaru, dapat ditemukan pada segmen terbawah pada blog. Berikut pula terdapat komentar terkini dan kategori. Kotak pencarian dapat dimanfaatkan pada kotak di bawah ketiganya, ini berarti menempati pondasi terbawah blog, sebelum footer. Terakhir, saya harap dalam menanggap sebuah tulisan, untuk mencantumkan nama terang anda demi mempermudah komunikasi yang lebih terbuka dan sehat. Cukup demikian pemberitahuan dari saya, mohon maaf atas perubahan yang sangat kentara ini.</p>
<p>Dan terakhir, yang paling penting, momen itu tibalah juga&#8230;</p>
<p><a title="Mari menyanyi dan bergembira bersama KAP" rel="attachment wp-att-86" href="http://pecundang.wordpress.com/2008/01/27/kap-telah-berubah/mari-menyanyi-dan-bergembira-bersama-kap/"></a></p>
<div style="text-align:center;"><a title="Mari menyanyi dan bergembira bersama KAP" rel="attachment wp-att-86" href="http://pecundang.wordpress.com/2008/01/27/kap-telah-berubah/mari-menyanyi-dan-bergembira-bersama-kap/"><img src="http://pecundang.files.wordpress.com/2008/01/menyanyi-bersama.jpg?w=450" alt="Mari menyanyi dan bergembira bersama KAP" /></a></div>
<div><em> Mari menyanyi dan bergembira bersama KAP!</em></div>
<p>KAP bukan lagi <strong>Kami Adalah Pecundang</strong>, tapi sekarang ia adalah <strong>Kami Arsitek Pecundang</strong>.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pecundang.wordpress.com/85/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pecundang.wordpress.com/85/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pecundang.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pecundang.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pecundang.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pecundang.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pecundang.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pecundang.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pecundang.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pecundang.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pecundang.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pecundang.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pecundang.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pecundang.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pecundang.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pecundang.wordpress.com/85/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pecundang.wordpress.com&amp;blog=1500409&amp;post=85&amp;subd=pecundang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pecundang.wordpress.com/2008/01/27/kap-telah-berubah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6a4de686aa142d08d285e595d105bf06?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Putra</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pecundang.files.wordpress.com/2008/01/menyanyi-bersama.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Mari menyanyi dan bergembira bersama KAP</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
